Jumat, 08 Desember 2017

Mimpi

Tadi malam ia datang ke mimpiku. Semua ketakutan, keraguan, dan rasa rendah diri hilang entah kemana. Tetiba saja aku menjadi pemberani, saat ia datang mengahampiri aku tersenyum padanya dan menyebut namanya. Ia balik tersenyum. Mimpi indah yang belum aku sadari mimpi itu, memberikan rasa bahagia yang menenangkan. Di mimpi itu, aku berjalan kepada sebuah bangunan yang tidak asing yang merupakan manifestasi dari dunia nyata. Saat berada di bangunan itu ia memanggilku, dan tersenyum. Katanya, ia ingin bisa menghubungiku dan karenanya ia memberikan nomor teleponnya kepadaku. Aku senang.

Ia pergi, lalu aku mencoba meneleponnya. Dan kali ini aku bukan sosok yang pemberani lagi. Manifestasi dari rasa takut, minder, dan rendah diri masuk ke dalam mimpi. Terdengar suara wanita yang menjawab telepon itu, aku tanya dimana dia. Namun wanita itu malah mencela, kenapa aku meneleponnya. Aku terus bertanya dimana dia, lalu dia menjawab teleponku dengan suaranya yang khas. Dan perkataannya membuat perasaanku luluh lantah saat itu juga. Katanya : aku emang ngasih nomor nelepon aku, tapi bukan berarti kamu bisa nelepon secepet ini! Sekarang aku lagi presentasi, dan dimarahin dosen gara-gara telepon ini!

Aku lalu menutup telepon itu. Dan saat itu pula aku terbangun.

Terbangun dengan perasaan sedih dan takut yang selama ini melanda. Yang mengahalangi untuk menyatakan bahwa aku suka dia.

08/12/2017

Rabu, 06 Desember 2017

Jelek

Sebelum masuk kuliah aku udah memproklamirkan diri : ingin pinter dandan dan lebih rajin merawat diri untuk menutupi kejelekan. 

Yap, aku sadar banget kalau rupa ini jauuuhhhhh sekali dari yang namanya 'cantik' menurut standar kecantikan orang indonesia. Badan yang agak besar, warna kulit agak gelap, bentuk wajah yang kurang proporsional dengan mata sipit hidung besar dan gigi berantakan yang kalau tersenyum malah menyeramkan. Aku bahkan gak suka sama senyum sendiri.

Dan aku sempat minder (sampe sekarang sih) sama penampilan aku. Sering banget aku bercermin, mencoba mencari angle yang pas supaya sedikiit ajah aku terlihat cantik. Dan berhasil. Aku tau apa yang harus aku lakuin. Muka aku aneh banget kalau aku ketawa lebar ngeliatin gigi, tapi kalau aku tersenyum tanpa memperlihatkan gigi, mukaku terlihat 'sedikit manis'. Aku lakuin itu saat bercermin dan saat selfie.

Tapi tetep ajah mau bagaimanapun aku mencoba, wajahku tetap wajahku. Makanya, aku paling gak suka kalau ada yang ngambil foto candid tanpa aku persiapan terlebih dahulu. Karena mukaku aneh banget, jelek, nyeremin.

Bukan gak pernah aku berpikir untuk bersyukur, bahwa fisik yang diciptakan sempurna ini merupakan anugerah dari Tuhan. Dan gak sebaiknya aku merendahkan diri sendiri. Tapi mungkin yang namanya konstruksi sosial, suliiitt banget untuk gak ngerasa kalau aku ini gak jelek. 

Apalagi setelah aku suka sama laki-laki.

Setelah aku sadar waktu remaja, kalau fisik berperan penting untuk menarik perhatian lawan jenis. Semakin minderlah aku. 

Lalu aku mengenal make up. Suatu hal yang dapat sedikit mengurangi kejelekan ini. Waktu SMA sebnernya udah pingin pake make up, tapi karena orang-orang gak ada yang pake, palingan pake pelembab bedak lip gloss, akhirnya aku mengurungkan niatku. Tapi aku masih suka ber make up ria di rumah, mencoba berbagai macam variasi yang membuat aku bahagia, entah mengapa.

Saat kuliah, dimana orang-orang sudah pakai make up, aku merasa bebas. Aku mulai mengaplikasikan make up saat aku kuliah. Aku senang, kejelekanku tertutupi. 

Namun setelah aku membersihkan wajahku, rupaku yang asli terlihat kembali. Ingin marah, pada siapa. Kalau kesal, berarti aku gak bersyukur. Akhirnya aku hanya tersenyum di depan cermin itu. Menerima kenyataan dengan kejelekan dan terus berusaha merawat diri.

Masa udah jelek gak mencoba ngerawat diri? Bisa-bisa gak ada yang mau bergaul sama aku.

06/12/2017