Senin, 04 Juni 2018

Swim Good [cuplikan]

Malam semakin larut, juga dingin yang memaksa orang-orang agar diam berselimut di dalam rumah dan tidur untuk berharap terbangun di pagi hari yang cerah. Namun wanita itu masih di sana. Berdiri mematung memandang ke arah pintu gerbang. Ia seakan menunggu, padahal sebenarnya tidak. Ia sedang berusaha memastikan apa yang dirasakannya juga merunut apa yang telah terjadi.

Suara deruman terdengar, disusul pintu gerbang yang terbuka. Dan wanita itu memperhatikan lelaki yang keluar dengan wajah lelah sekaligus sumringah.

Ia lalu pergi dari balkon itu, menuju dapur untuk melakukan hal yang rutin ia lakukan satu setengah tahun ini. Saat lelaki itu datang, ditatapnya wajah lelaki itu dengan seksama, bagaimana kantung matanya yang tebal dan kulitnya yang putih pucat.

"Kamu udah pulang, gimana acaranya tadi?" wanita itu memaksakan tersenyum dan berbasa-basi walaupun sebenarnya ia tidak ingin mendengar apapun darinya.

"Yah kaya biasa, kamu pasti tau kelakuan Vandi kaya gimana," jawab lelaki itu acuh tak acuh, ia menuju kamar mandi dan menyimpan barang-barangnya di sembarang tempat. "Aku mau mandi dulu."

Sembari menunggunya mandi, wanita itu menyiapkan segelas teh hangat yang tidak terlalu manis. Lelaki itu menyukainya. Jadi ia lakukan yang terbaik yang ia bisa walaupun selanjutnya sebuah kesadaran menghentak, kesadaran yang membuat ia bertanya-tanya mengapa ia harus melakukan ini.

Setelah mandi lelaki itu duduk dan menyesap teh yang dibuatkan oleh sang wanita, istrinya. Tidak seperti biasa kali ini sunyi yang menggantung di udara. Tak ada pertanyaan basa-basi dari si wanita juga tak ada kepedulian yang dipaksakan dari si lelaki. Dua-duanya seakan menyadari kalau malam ini akan jadi akhir dari segala yang terjadi.

Wanita itu lalu bangkit dan pergi ke kamarnya. Menghilangkan rasa pening yang melanda. Malam ini ia merasa ingin tidur saja dan terbangun di keesokan hari untuk melihat apa yang terjadi.

Tak lama lelaki itu datang dan berbaring di sampingnya. Tak ada yang tidur, juga tak ada yang bersuara. Masing-masing tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. Wanita memandang langit di luar jendela, lelaki memandang langit-langit kamarnya yang gelap.

Lalu tetiba sebuah gerakan terjadi. Wanita itu berbalik untuk menatap wajah sang lelaki, lantas ia menyentuhnya, "aku jujur waktu aku bilang aku punya rasa suka sama kamu. Dan aku pun jujur saat dulu aku bilang aku ingin kamu yang jadi suamiku. Ini bukan cuman tentang keuntungan yang ingin aku peroleh saja."

Lelaki itu tak bergeming, lalu diusapnya rambut sang wanita, "dan aku pun gak bohong waktu aku bilang aku nyaman dengan perlakuan kamu, dan aku tulus mengucapkan terimakasih untuk semuanya."

Hening menyelimuti. Dan malam yang sunyi itu semakin sepi ditelan gelap dan awan yang menutupi bintang. Dua insan dengan perasaannya masing-masing saling bertatapan. Sang wanita dengan kesadarannya, dan sang lelaki dengan perasaan bersalahnya. Malam itu, di bawah langit malam yang tertutupi awan, dua sejoli yang hendak berpisah saling mengucapkan selamat tinggal dengan tubuh mereka. Maaf dan terimakasih tak luput dalam perayaan selamat tinggal itu, meninggalkan kisah yang memberikan rasa nyaman juga luka.

Jumat, 20 April 2018

Tercerabut

Alkisah, ada sebuah kerajaan bernama kerajaan Marde. Kerajaan ini dilingkupi dengan kesengsaraan yang luar biasa. Perang yang tak berkesudahan, penguasa yang semena-mena, dan rakyat yang semakin menderita.

Tapi rakyat kerajaan Marde tidak semudah itu putus asa. Entah sudah berapa kali mereka berusaha untuk mengembalikan kerajaan mereka ke masa jayanya. Saat rakyat hidup tentram nan sejahtera dan penguasa mengayomi rakyatnya.

Karena perang yang tak juga padam dan nasib yang tak semakin baik, lambat laun rakyat kerajaan Marde lelah juga, perlahan mereka mulai putus asa dan kehilangan semangat untuk membawa kerajaan ini ke arah yang lebih baik.

Lalu tetiba sebuah pesan turun bak meteor. Memberikan harapan seperti oase di tengah padang pasir yang gersang. Ada sebuah ramalan kuno yang dipercayai oleh banyak orang, bahwa akan datang penyelamat saat kerajaan sedang dilanda kekacauan. Penyelamat yang akan membawa kerjaan Marde damai nan sejahtera. Dan penyelamat itu akan datang tak lama lagi. Penyelamat itu, adalah orang yang dapat mencabut pedang keramat yang sudah tertancap selama ribuan tahun di lembah putih.

Dengan cepat pesan itu menyebar dan seluruh kerajaan bising dengan bincang-bincang datangnya penyelamat. Lembah putih pun mulai sesak dipenuhi dengan orang-orang yang ingin melihat sang penyelamat atau orang yang berusaha membuktikan bahwa ialah sang penyelamat itu.

Datanglah pemuda-pemudi tangguh dari penjuru negeri yang berusaha untuk mencabut pedang milik ksatria legenda itu. namun tak ada satu pun yang berhasil. Dan orang-orang mulai kehilangan harapan kembali. Sampai datang seorang pemuda dengan badan tegap dan otak cemerlang yang datang dari selatan kerajaan.

Ia datang ke lembah putih itu seorang diri, saat ia tiba dan berjalan menuju pedang yang tertancap, pikirannya bergemuruh. Ada kejanggalan dan kesadaran yang datang hampir bersamaan. Sebuah titik terang yang menghentak kesadarannya.

Ia mengamati pedang yang tertancap itu, pedang milik ksatria legenda pendiri kerajaan Marde yang tersohor. Seorang ksatria yang menghapuskan segala bentuk kekejaman dan memberikan penghidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang menginginkan. Ialah pendiri kerajaan Marde sekaligus raja pertama yang melegenda, yang sejarah asli hidupnya tidak banyak tercatat dan diketahui. Ia adalah raja yang menancapkan pedang di lembah putih ini sebagai penanda wilayah kerajaannya dan pengabdian hidupnya bagi masyarakat.

Pemuda tangguh dari selatan itu terus mengamati pedang yang mencuri rasa kekagumannya. Ia mencoba menerka-nerka bagaimana sosok sang raja yang menancapkan pedang itu juga sosok penyelamat yang berhasil mencabutnya. Lalu sebuah kesadaran menghentak dan ia kembali pada realita.

Ia mengamati sekitar. Orang-orang dengan wajah penuh harapan, napas yang tertahan, juga degup jantung tak beraturan dari orang yang ingin membuktikan sebuah ramalan.

Perlahan, pemuda itu menyentuh pedang dan suasana menjadi sunyi. Napas-napas tertahan disertai degup kekhawatiran. Pemuda itu mencoba menariknya,saat terjadi sedikit gerakan, ia menyerah, tak sanggup lagi untuk meneruskannya dan orang-orang pun kembali menelan pahitnya kekecewaan.

Melihat wajah yang kecewa itu ia berujar pada para hadirin yang menyaksikan,”wahai kalian semua!! Aku memang tidak dapat mencabut pedang ini. namun jika kalian ikut berjuang bersama denganku, aku yakin kita dapat membawa kerajaan ini ke arah yang lebih baik!”

Hadirin hanya terdiam, pura-pura tidak mengengar dan mengabaikan mentah-mentah ucapan pemuda itu . lantas pemuda itu pun pergi dari lembah putih dengan rasa sedih juga kecewa yang melanda.

Di sebuah desa kecil yang ia lewati menuju kampung halamannya, ia bertemu sekumpulan orang. Sekumpulan orang yang gagal mencabut pedang legenda di lembah putih. Melihat mereka semua pemuda itu mengernyit.

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

“Kau baru saja pergi dari lembah putih itu?” tanya seorang laki-laki bertubuh gelap.

“Ya.”

“Dan apa yang kau lakukan? Kau  mencabutnya?” kali ini seorang wanita dengan rambut coklat bertanya.

“Tidak.”

Mereka hanya terdiam dan mengajak pemuda itu ke sebuah kedai.

“Kau lihat kan? kita sudah tidak punya harapan lagi. Kerajaan ini sudah tidak punya harapan lagi.”

Pemuda itu hanya mengangguk setuju tatkala seorang lelaki tua bertubuh tegap duduk di sampingnya.

“Aku dapat informasi musuh datang dari arah timur, dan kerajaan kita tidak melakukan apa-apa, hanya satu yang bisa kita lakukan, pergi dari sini.”

Ia mengangguk, dan yang lain pun setuju. Jadi ia beserta “mantan calon penyelamat” itu pun segera lari dari kerajaan Marde. Mereka tak lupa mengajak penduduk dari desa yang mereka lewati untuk turut serta pergi bersama mereka. Namun sebagian besar penduduk itu lebih memilih tinggal sambil menunggu sang penyelamat yang akan datang. Hanya sebagian kecil yang mau pergi bersama mereka.

Perang semakin berkecamuk, korban jiwa semakin banyak berjatuhan. Dan rombongan yang kabur dari kerajaan Marde sudah mencari tempat yang cukup aman untuk tinggal mereka sementara.

Saat perang sudah reda, rombongan itu kembali lagi ke kerajaan yang mereka tinggalkan. Namun hanya puing-puing juga mayat yang tersisa. Terlalu terlambat bagi penduduk untuk melarikan diri karena musuh sangat cepat tiba, andai saja penduduk itu mau mendengarkan perkataan mereka saat itu.

Mereka pun kembali lagi ke lembah putih. Dan pedang legenda masih tertancap di situ, di tengah orang-orang meninggal yang terus-menerus menunggu datangnya penyelamat. Pemuda itu pun mendekati pedang legenda, menyentuhnya, dan dalam sekali hentakan berhasil mencabutnya.

“Kasihan orang-orang itu, lebih percaya pada ramalan dibanding berjuang dengan tangan mereka sendiri.” Sang lelaki tua tegap memandang ke arah pedang  dan mayat-mayat yang berserakan di sekitarnya.

“Tapi kalau dulu aku mencabutnya dan bertingkah seolah-olah aku ini penyelamat,apakah mereka akan ikut berjuang bersamaku?” tanya wanita berambut cokelat.

“Tidak,” sahut lelaki bertubuh gelap,”andaikan kau mencabutnya dan mereka menganggapmu penyelamat, mereka tetap akan menghancurkan diri mereka sendiri. Sikap dan sifat mereka sendirilah yang sudah memusnahkan mereka dan kerajaan ini.”

“Ayo kita pergi,” sahut lelaki tua. Dan rombongan mereka pun berjalan pergi dari lembah putih itu, dengan sang pemuda tangguh yang membawa pedang legenda untuk ditancapkan di wilayah baru yang akan ia tinggali.

17/04/2018

Jumat, 23 Maret 2018

Dua Porsi

Ada seorang gadis, dia punya suatu kebiasaan yang bisa dibilang aneh. Setiap kali makan, ia selalu memesan dan menyediakan dua porsi. Akan ada dua piring yang ia bawa. Satu untuknya, dan satu lagi diletakkan di depannya. Ia lalu akan memakan makanannya, dengan porsi yang satunya lagi ia biarkan begitu saja, tidak ia makan dan tidak ada yang memakannya.

Memang tidak terjadi setiap saat, namun akhir-akhir ini semakin sering ia berbuat seperti itu. saat di warteg, penjual merasa tidak ada yang aneh saat seorang perempuan memesan dua porsi, mungkin perempuan dengan porsi besar, pikirnya. namun saat ia melihat piring yang satunya tidak disentuh sama sekali, ia mulai aneh. Ada apa gerangan? Apakah ia kenyang? Apa ia tak suka? atau ada orang lain yang memesannya? Namun sampai wanita itu selesai makan, piring yang satunya tetap utuh tidak tersentuh.

Saat ia membeli nasi goreng di dekat rumahnya, penjual pun tidak merasakan keanehan saat seorang gadis memesan dua porsi. Mungkin dia membelikan untuk orang lain, pikirnya. namun saat melihat gadis itu hanya makan seorang diri dengan seonggok nasi goreng di depannya yang tak dimakan, ia mulai curiga, kenapa memesan dua porsi kalau tidak mau dimakan?

Namun tak ada yang benar-benar tahu dengan alasan sebenarnya ia melakukan itu. orang-orang yang merasa aneh hanya bisa menduga-duga. Baik penjual di warteg, penjual nasi goreng, dan orang-orang yang tidak sengaja melihatnya.

Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan gadis itu saat ia makan dan melihat satu porsi di depannya utuh.

Tidak ada yang tahu kalau perasaannya getir setiap kali ia menyuap makanan ke mulutnya namun makanan di hadapannya tidak tersentuh. Tidak ada yang tahu perasaan pahit saat makanannya habis namun makanan di depannya tidak ada yang menghabiskan.

Dan tidak ada yang tahu bagaimana kerinduan menunggu membuatnya berharap terlalu dalam.

Berharap agar seseorang datang dan makan berdua dengannya.



23/03/2018

Kamis, 08 Maret 2018

Make Up dan Cerita Tentangnya

Kisah ini tentang empat orang wanita, mari aku ceritakan satu-satu.

Wanita pertama menyukai make up, tapi ia tidak mau orang-orang tahu kalau ia memakainya. Ia ingin terlihat cantik natural dan sebisa mungkin ia menutupi kenyataan kalau diam-diam ia memakainya.

Setiap pagi, dengan usaha yang maksimal ia sudah menyiapkan diri. Mencuci muka, memakai moisturizer, sunscreen, dan sesedikit mungkin bedak supaya tak terlihat ia memakai make up. Ditambah dengan lip gloss natural agar bibirnya tak terlalu pucat.

Di depan orang-orang ia selalu mengatakan, "Aduh penampilan aku gimana? Kayak orang bangun tidur banget gak? Soalnya tadi aku buru-buru gak sempet ngapa-ngapain." berharap agar orang-orang menjawab, "Ih engga kok, kamu bangun tidur gak dandan juga udah cantik."

Kenyataannya jika ia pergi ke luar dengan penampilannya saat baru bangun tidur, orang akan kabur.

Wanita kedua sangat sangat cinta dengan make up. Kemanapun dimanapun ia selalu memakainya. Kecintaannya dengan makeup sudah tak bisa diragukan lagi. Dan ia tidak pura-pura seperti wanita pertama, ia memberitahu semua orang bahwa ia menyukai dan mencintai make up dengan selalu memakainya terang-terangan.

Masalahnya, rasa cinta itu berubah menjadi cemas. Cemas jika lupa membawa make up, cemas jika ia tidak memakainya, cemas jika orang melihatnya tanpa make up. Ia tidak mau orang-orang melihat wajah polosnya.

Wanita ketiga juga menyukai make up. Ia selalu memakainya dengan rasa percaya diri. Kadang juga ia dandan di depan banyak orang.

Dan wanita ini tidak masalah jika orang-orang melihat wajah polosnya. Saat ada yang mengatakan, "Eh kamu kalau lagi gak pake lipstick kayak yang lagi sakit," ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Toh emang benar wajahnya tanpa make up tidak secerah saat ia pakai make up. Intinya, ia tidak peduli komentar orang.

Wanita keempat sebenarnya menyukai make up, tapi ia tidak percaya diri. Ia takut wajahnya aneh kalau ia memakainya. Oleh karena itu ia selalu bertanya setelah memakai make up, "eh liat deh ini lipstick aku gimana? Aneh gak? Meleber gak? Duh jelek yah aku pake ini." lalu ia pergi ke kamar mandi untuk menghapus riasannya.

Esoknya hal itu akan terulang lagi. Ia mencoba memakai make up, sangat lama berada di depan cermin untuk mematut diri. Namun saat ia ke luar ke hadapan orang-orang ia menjadi tidak percaya diri dan menghapusnya kembali.

Begitulah cerita-cerita tentang make up, berbeda sifat, berbeda pemaknaan namun sama-sama ingin terlihat cantik.

08/03/2018

Minggu, 04 Maret 2018

Mencari Teman Bicara Tanpa Stigma

First of all, bisa dibilang sekarang aku lagi ada di periode yang.... Gak jelas. Gak jelas karena aku pun bingung sama aku yang aku rasakan. Ada banyak wacana yang bermunculan, opini yang berserakan yang diminta untuk dibicarakan. Tapi aku malu untuk bicara, takut dicap ini dan itu.

Pingin membicarakan tentang sex takut dikira perempuan nakal. Ingin bicara tentang agama takut dikira radikal. Ingin bicara tentang sebuah wacana yang agak melawan arus takut dibilang liberal. Aku takut kalau lawan bicaraku orang yang sangat 'judgemental' dan setelah mendengar apa yang aku katakan bukannya diskusi bersama malah mencap ini dan itu, memberikan stigma macam-macam yang gak relevan.

Dan sempet mikir, apa aku salah tempat yah? Apa aku berada di tengah orang-orang yang salah sampai aku gak bisa mengeluarkan apa yang aku pikirkan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi itu cuman alasan yang aku cari-cari, karena memang lebih mudah menyalahkan keadaan daripada menyalahkan diri sendiri.

Masalahnya sesungguhnya ada pada diri sendiri. Diri ini berani tidak untuk mengeluarkan apa yang dipikirkannya? Diri ini berani tidak untuk tidak mendengarkan perkataan orang-orang? Diri ini berani tidak untuk bisa mandiri dan tidak tergantung supaya tidak usah merasa gak enakan sama orang? Semuanya ada pada diri sendiri. Diri yang pengecut, yang belum berani melangkah ke arah yang ia yakini.

Tapi tetep ajah berat kalau semuanya disimpan sendiri. Akhirnya aku melakukan satu hal yang aku bisa, menulis. Walaupun mungkin dengan menulis akupun gak akan luput dari 'stigma' yang disematkan orang-orang. Tapi yah aku berusaha untuk gak peduli. Dan aku tetap akan menulis.

Menulis tentang segala hal sampai aku menemukan lawan bicara dimana aku bisa membicarakan banyak hal tanpa 'stigma'. Tanpa dituduh macam-macam dan disudutkan.


04/03/2018

Selasa, 06 Februari 2018

Tentang Media Sosial dan Kesehatan Mental

Jadi udah beberapa bulan terakhir ini aku nge log out akun instagramku, dan membukanya hanya pada saat –saat tertentu dan itupun tidak pernah lebih dari 15 menit. Hal ini aku lakukan setelah merasa kalau semakin lama berselancar di instagram malah makin gak sehat. Bawaannya iri, apalagi kalau musim liburan.

Dilansir dari laman CNN Indonesia, ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh The Royal Society for Public Health (RSPH) dan Charity Young Health di Inggris. Mereka melakukan penelitian terhadap 1500 anak muda (usia 14-24) selama bulan-bulan pertama tahun 2017.  Penelitian tersebut menilai dan mengamati tentang bagaimana media sosial mempengaruhi kesehan mental mereka.
Hasilnya, berdasarkan rating, instagram dinilai sebagai aplikasi media sosial yang memiliki efek negatif paling banyak.

Setelah merasa gak enak dan setelah membaca artikel tersebut, akhirnya aku putuskan untuk me log out akun instragramku. Emang belum sampai tahap yang radikal dimana aku ngehapus akun  dan pergi untuk selama-lamanya. Karena aku juga mikir, masih banyak informasi yang aku butuhkan dan  tersedia di instagram. Akhirnya aku cuman nge log out akun dan membukanya pada saat-saat tertentu, itupun hanya melihat-lihat akun yang ingin aku lihat.

Soalnya gimana yah, seperti yang udah aku sebutkan di atas, keseringan buka instagram itu bawaannya iri, dengki, juga malah jadi gak bersyukur. Kenapa? Soalnya diri ini ngebanding-bandingin kesusahan hidup sama kesenangan oranglain yang mereka upload ke instagram.
Liat orang-orang jalan-jalan, beli sesuatu, hang out, dan lain sebagainya bikin aku ngerasa kalau hidup aku ini gak semenyenangkan mereka. Terus mulai menyalahkan. Menyalahkan keadaan, menyalahkan lingkungan, menyalahkan orang tua, sampai menyalahkan Tuhan.  Kenapa sih aku juga gak bisa seneng-seneng kayak mereka?

Tapi setelah dipikir-pikir lagi orang yang kelihatan senang di media sosial belum tentu seneng juga di dunia nyata. Bisa jadi mereka juga punya banyak masalah yang memang gak akan pernah mereka beritahukan lewat media sosial. Dan aku pun, gak akan pernah nge upload permasalahan dan kesusahan aku ke media sosial.

Terus aku sadar. Iya juga yah, orang yang sering aku liat mereka seneng-seneng, jalan-jalan, mereka juga  sebenernya punya masalah. Cuma yah mereka gak akan pernah memberitahu kesusahan mereka itu. jadi yang mereka upload cuman yang seneng-seneng aja.

Tapi walaupun sadar kalau orang yang keliatannya seneng itu punya masalah juga, aku tetep memutuskan untuk mengurangi frekuensi main instagram. Gak sehat bro kalau keseringan liat orang seneng-seneng. Gak berfaedah juga liatin foto dan story orang yang bikin pinter enggak bikin abis kuota iya.

Akhirnya aku beralih pada sosial media dan situs-situs lain yang lebih ‘sehat’. Mulai dari situs berita, sampai twitter. Asli deh, bersamaan dengan aku mengurangi frekuensi main instagram, aku juga mulai menambah frekuensi main twitter. Loh, emangnya twitter juga gak memiliki efek buruk?
Berdasarkan penelitian yang sama yang sudah aku sebutkan di atas, twitter berada di posisi ke dua media sosial terbaik dari lima media sosial yang diteliti.

Di twitter dimana orang-orang mencuit tulisan mereka, ada juga efek negatifnya. Entah itu ujaran kebencian, berantem gak jelas, dll. Tapi aku merasa lebih nyaman di twitter.. aku memilih untuk memfollow orang-orang yang ingin aku follow. Membaca gagasan mereka, bertukar pikiran, dan lain sebagainya. Lebih baik daripada iri dengan kehidupan orang lain.

Pun tidak bisa dipungkiri disamping efek negatifnya, instagram juga punya efek positif. Misalnya kita bisa lebih dekat dengan teman atau keluarga yang jauh, kita bisa tahu bagaimana keadaan mereka dan kabar dari mereka. Juga hal ini bisa dimanfaatkan oleh orang untuk berbisnis. Dimana di era digital ini perdagangan dengan menggunakan teknologi tidak bisa dihindari lagi. Juga aku selalu memposting update-an terbaru blogku lewat instagram. Berharap agar orang-orang mau membaca.

Tapi tetap, berdasarkan pergolakan di dalam diri, keputusan pribadi tetap ingin mengurangi frekuensi main instagram. Dan hasilnya Alhamdulillah aku udah gak terlalu ‘panas’ dan iri lagi sama kehidupan orang.

Sekarang pun di aplikasi whatsapp ada status yang fiturnya mirip instastory di instagram. Tapi mungkin karena sudah lebih awal melatih mental dengan mengurangi main di instagram, aku juga udah gak terlalu iri hati lagi liat temen atau siapapun yang upload status mereka entah mereka lagi 
jalan-jalan atau apapun itu.

Dan sekarang fokusku bukan ke kehidupan orang lain lagi, tapi pada diri sendiri. Sekarang aku mencoba untuk fokus memperbaiki kualitas diri dan sibuk mencari ilmu sebanyak mungkin. Karena kebahagiaan dan kesenangan diri ini yang tahu, juga diri ini yang merasakan, bukan orang lain.



06/02/2018

Rabu, 24 Januari 2018

Balada Dua Wanita

Tujuan Wulan sederhana, yakni setelah lulus kuliah ia berharap bisa bertemu sang pujaan hati dan langsung menikahinya. Kalau bisa sih lelaki yang ia damba. Ia selalu berkhayal, agar nanti lelaki yang didambanya itu tiba-tiba datang membawa keluarganya untuk langsung melamar Wulan dan mengutarakan perasaannya yang dipendam selama ini.

Masalah apakah nanti ia mau bekerja atau tidak biar nanti ia pikirkan, karena itu bukan skala prioritasnya saat ini. lagipula ia berpikir, bekerja bukanlah hal yang utama bagi wanita. Bagi wanita hal yang paling utama adalah mengurus suami dan anak. Dan juga ia sekolah sampai ke jenjang perguruan tinggi bukan untuk bekerja, melainkan untuk anak-anaknya nanti.

Ia selalu geleng-geleng kepala kalau melihat ada wanita yang terlalu ambisius mengerjar karir. Berlebihan, melawan kodrat, pikirnya. ia hanya bisa tersenyum pahit kalau ada orang atau teman wanitanya yang berbicara tentang kesetaraan, kesempatan, hak. Ya ampun, pemikiran seperti itu memang bahaya bagi wanita.

**


Tujuan Nella sederhana, yakni setelah lulus kuliah ia ingin langsung bekerja agar tidak lagi menyusahkan orangtuanya. Kerja dimana saja tak masalah, cari kesempatan sebanyak-banyaknya dan mendapat pengalaman lebih utama.  Pikiran tentang menikah dan punya anak ia kesampingkan terlebih dahulu, lagipula ia pun tidak berniat untuk berkeluarga.

Juga ia berpikir, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya hanya diam di rumah dan mengurus anak. Sebagai perempuan, ia pun punya keinginan untuk mengaktualisasi diri dan tampil di ruang publik.

Ia selalu geleng-geleng kepala kalau melihat ada wanita yang merendahkan diri serendah-rendahnya atas nama norma, budaya, dan agama. Bodoh, pikirnya. ia hanya bisa tersenyum pahit kalau ada orang atau teman wanitanya yang berbicara tentang kodrat, dosa, neraka. Ya ampun, agama memang mengopresi wanita.

**

Sebenarnya baik Wulan maupun Nella bisa saling berbicara sambil santai minum teh. Dengan begitu mereka bisa mulai memahami dan mengerti dengan pandangan yang bertolak belakang. Tapi yang mereka lakukan adalah saling menjauh, sambil berpikir bahwa tujuannya lebih baik dari yang lain.


24/01/2018