Jumat, 23 Maret 2018

Dua Porsi

Ada seorang gadis, dia punya suatu kebiasaan yang bisa dibilang aneh. Setiap kali makan, ia selalu memesan dan menyediakan dua porsi. Akan ada dua piring yang ia bawa. Satu untuknya, dan satu lagi diletakkan di depannya. Ia lalu akan memakan makanannya, dengan porsi yang satunya lagi ia biarkan begitu saja, tidak ia makan dan tidak ada yang memakannya.

Memang tidak terjadi setiap saat, namun akhir-akhir ini semakin sering ia berbuat seperti itu. saat di warteg, penjual merasa tidak ada yang aneh saat seorang perempuan memesan dua porsi, mungkin perempuan dengan porsi besar, pikirnya. namun saat ia melihat piring yang satunya tidak disentuh sama sekali, ia mulai aneh. Ada apa gerangan? Apakah ia kenyang? Apa ia tak suka? atau ada orang lain yang memesannya? Namun sampai wanita itu selesai makan, piring yang satunya tetap utuh tidak tersentuh.

Saat ia membeli nasi goreng di dekat rumahnya, penjual pun tidak merasakan keanehan saat seorang gadis memesan dua porsi. Mungkin dia membelikan untuk orang lain, pikirnya. namun saat melihat gadis itu hanya makan seorang diri dengan seonggok nasi goreng di depannya yang tak dimakan, ia mulai curiga, kenapa memesan dua porsi kalau tidak mau dimakan?

Namun tak ada yang benar-benar tahu dengan alasan sebenarnya ia melakukan itu. orang-orang yang merasa aneh hanya bisa menduga-duga. Baik penjual di warteg, penjual nasi goreng, dan orang-orang yang tidak sengaja melihatnya.

Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan gadis itu saat ia makan dan melihat satu porsi di depannya utuh.

Tidak ada yang tahu kalau perasaannya getir setiap kali ia menyuap makanan ke mulutnya namun makanan di hadapannya tidak tersentuh. Tidak ada yang tahu perasaan pahit saat makanannya habis namun makanan di depannya tidak ada yang menghabiskan.

Dan tidak ada yang tahu bagaimana kerinduan menunggu membuatnya berharap terlalu dalam.

Berharap agar seseorang datang dan makan berdua dengannya.



23/03/2018

Kamis, 08 Maret 2018

Make Up dan Cerita Tentangnya

Kisah ini tentang empat orang wanita, mari aku ceritakan satu-satu.

Wanita pertama menyukai make up, tapi ia tidak mau orang-orang tahu kalau ia memakainya. Ia ingin terlihat cantik natural dan sebisa mungkin ia menutupi kenyataan kalau diam-diam ia memakainya.

Setiap pagi, dengan usaha yang maksimal ia sudah menyiapkan diri. Mencuci muka, memakai moisturizer, sunscreen, dan sesedikit mungkin bedak supaya tak terlihat ia memakai make up. Ditambah dengan lip gloss natural agar bibirnya tak terlalu pucat.

Di depan orang-orang ia selalu mengatakan, "Aduh penampilan aku gimana? Kayak orang bangun tidur banget gak? Soalnya tadi aku buru-buru gak sempet ngapa-ngapain." berharap agar orang-orang menjawab, "Ih engga kok, kamu bangun tidur gak dandan juga udah cantik."

Kenyataannya jika ia pergi ke luar dengan penampilannya saat baru bangun tidur, orang akan kabur.

Wanita kedua sangat sangat cinta dengan make up. Kemanapun dimanapun ia selalu memakainya. Kecintaannya dengan makeup sudah tak bisa diragukan lagi. Dan ia tidak pura-pura seperti wanita pertama, ia memberitahu semua orang bahwa ia menyukai dan mencintai make up dengan selalu memakainya terang-terangan.

Masalahnya, rasa cinta itu berubah menjadi cemas. Cemas jika lupa membawa make up, cemas jika ia tidak memakainya, cemas jika orang melihatnya tanpa make up. Ia tidak mau orang-orang melihat wajah polosnya.

Wanita ketiga juga menyukai make up. Ia selalu memakainya dengan rasa percaya diri. Kadang juga ia dandan di depan banyak orang.

Dan wanita ini tidak masalah jika orang-orang melihat wajah polosnya. Saat ada yang mengatakan, "Eh kamu kalau lagi gak pake lipstick kayak yang lagi sakit," ia tidak terlalu mempermasalahkannya. Toh emang benar wajahnya tanpa make up tidak secerah saat ia pakai make up. Intinya, ia tidak peduli komentar orang.

Wanita keempat sebenarnya menyukai make up, tapi ia tidak percaya diri. Ia takut wajahnya aneh kalau ia memakainya. Oleh karena itu ia selalu bertanya setelah memakai make up, "eh liat deh ini lipstick aku gimana? Aneh gak? Meleber gak? Duh jelek yah aku pake ini." lalu ia pergi ke kamar mandi untuk menghapus riasannya.

Esoknya hal itu akan terulang lagi. Ia mencoba memakai make up, sangat lama berada di depan cermin untuk mematut diri. Namun saat ia ke luar ke hadapan orang-orang ia menjadi tidak percaya diri dan menghapusnya kembali.

Begitulah cerita-cerita tentang make up, berbeda sifat, berbeda pemaknaan namun sama-sama ingin terlihat cantik.

08/03/2018

Minggu, 04 Maret 2018

Mencari Teman Bicara Tanpa Stigma

First of all, bisa dibilang sekarang aku lagi ada di periode yang.... Gak jelas. Gak jelas karena aku pun bingung sama aku yang aku rasakan. Ada banyak wacana yang bermunculan, opini yang berserakan yang diminta untuk dibicarakan. Tapi aku malu untuk bicara, takut dicap ini dan itu.

Pingin membicarakan tentang sex takut dikira perempuan nakal. Ingin bicara tentang agama takut dikira radikal. Ingin bicara tentang sebuah wacana yang agak melawan arus takut dibilang liberal. Aku takut kalau lawan bicaraku orang yang sangat 'judgemental' dan setelah mendengar apa yang aku katakan bukannya diskusi bersama malah mencap ini dan itu, memberikan stigma macam-macam yang gak relevan.

Dan sempet mikir, apa aku salah tempat yah? Apa aku berada di tengah orang-orang yang salah sampai aku gak bisa mengeluarkan apa yang aku pikirkan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi itu cuman alasan yang aku cari-cari, karena memang lebih mudah menyalahkan keadaan daripada menyalahkan diri sendiri.

Masalahnya sesungguhnya ada pada diri sendiri. Diri ini berani tidak untuk mengeluarkan apa yang dipikirkannya? Diri ini berani tidak untuk tidak mendengarkan perkataan orang-orang? Diri ini berani tidak untuk bisa mandiri dan tidak tergantung supaya tidak usah merasa gak enakan sama orang? Semuanya ada pada diri sendiri. Diri yang pengecut, yang belum berani melangkah ke arah yang ia yakini.

Tapi tetep ajah berat kalau semuanya disimpan sendiri. Akhirnya aku melakukan satu hal yang aku bisa, menulis. Walaupun mungkin dengan menulis akupun gak akan luput dari 'stigma' yang disematkan orang-orang. Tapi yah aku berusaha untuk gak peduli. Dan aku tetap akan menulis.

Menulis tentang segala hal sampai aku menemukan lawan bicara dimana aku bisa membicarakan banyak hal tanpa 'stigma'. Tanpa dituduh macam-macam dan disudutkan.


04/03/2018