Sabtu, 24 Desember 2016

Rehat Sejenak


Karena aku butuh rehat sejenak. Dari segala perasaan melelahkan juga keadaan yang seakan tidak berkemanusiaan. Untuk menghilangkan kepenatan hati, juga emosi yang semakin menjadi-jadi. Dan kini aku bisa rehat sejenak.

Sejenak.

Dari segala perasaan mencekik ini.

Bukan maksud melarikan diri, namun untuk mengumpulkan energi kembali.

Yang kubutuhkan adalah rehat sejenak.

Sebelum akhirnya berjuang dengan sayatan semangat juga luapan emosi yang menguasai.

Rehat sejenak.

Sebelum aku melanjutkan perjalanan ini lagi.

Kini aku rehat sejenak.


24-12-2016

Jumat, 18 November 2016

Tak Ingin Lagi

Dan aku memutuskan untuk tidak mendamba lagi. Saat rasa kagum  pmalah mendatangkan sakit hati juga pengharapan yang membuat pedih dalam diri.

Mungkin memang benar, bagi wanita, lebih baik dicintai daripada mencintai. Karena perasaan ini tak bisa dipungkiri.

Lalu ia datang. Dengan senyuman, lirikan, juga gestur yang menawan.

Aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Menulis aku tak bisa. Bicara aku terbata.

Namun desir ini masih ada. Terus hinggap di dalam dada.

18-11-2016

Selasa, 08 November 2016

Di Tengah Pengap

Dan aku menyalahkan orang-orang atas ketidakmampuanku, kekeliruanku. Namun semuanya begitu rumit hingga aku tersesat dan tak tahu bagaimana mencari jalan keluarnya. Lalu amarah membuncah, dari keengganan untuk gagal juga tak tahu bagaimana caranya menyelesaikan.

Ingin berteriak, memukul diri sendiri mengapa semuanya menjadi seperti ini? Namun yang bisa kulakukan terdiam, berusaha sebisa mungkin. Dan merasakan sedikit desir-desir kebahagiaan di tengah kepengapan.



8-11-2016

Rabu, 21 September 2016

Terasa Beda (Menuju Dewasa)


Seorang gadis, berada dalam kesadaran akan hal yang yang lain. Bahwa kini, ada beberapa dari dirinya yang berubah. Ada banyak hal yang membuat ia melihat suatu kejadian dari perspektif yang lain.
Bermula dari suasana hati yang tak menentu. Ia pikir, semua ini hanya efek dari hormon yang tidak stabil menjelang datang bulan. Tapi ternyata tidak. Bahkan perasaan ini tetap terpatri dalam waktu yang lama. Yang menancap dalam ingatan dan dianalisis oleh pikiran.
Kini ia lebih tertarik membaca buku non fiksi dibanding novel romansa yang dulu ia cari-cari. Kini ia lebih tenang menghadapi gejolak hati dibanding dahulu saat ia merasa minder dengan segala sesuatu. Ia tahu, bahwa sesungguhnya ada banyak hal yang menunggu di depan. Yang menunggu untuk diselesaikan dalam perspektif yang berdeda. Pemikiran yang dewasa.
Namun walaupun tak sabar menunggu saat kedewasaan itu di sisi lain ia takut. Bahwa semua yang terjadi tidak dapat dikontrol oleh dirinya. Dan ia takut, bahwa semuanya akan menjadi berantakan, dan meninggalkan rasa kecewa yang mendalam.
Dan gadis itu kini hanya bisa berdoa, berusaha, dan merenungkan diri. Seandainya ada hal yang tak terduga, semoga ia bisa menghadapinya dengan pemikiran yang tenang, diiringi analisis yang kritis. Yang membuatnya bisa menghadapi segala sesuatu dengan bijaksana, dengan dewasa.
Semoga.

Catatan hati Andini

06-09-2016

Minggu, 04 September 2016

Cerita Mini : Makna

Oleh : Andini Latifah

Berdiri aku di bawah sengatan pusat tata surya. Kaki ingin menekuk, badan ingin rehat sejenak dari jenuhnya perkataan sang adidaya yang terus menerus saja menceracau di depan sana. Namun apa daya, ku tak bisa melakukan apa-apa. Hanya berpasrah sambil menikmati jilatan mesra panasnya sang surya.

Dengung bergemuruh,  wajah-wajah terlipat tak sabaran. Dan aku hanya bisa menyipitkan mata melihat keadaan.

Saat itulah kulihat dia, mengamati sang adidaya dengan tatapan elang pemangsa. Aku tak tahu bagaimana dia bisa begitu fokusnya, disaat orang-orang telah bergilir menggoyangkan badan mereka pertanda lelah.

Kuedarkan pandangan, tak mau terlalu terlihat kalau aku memerhatikan ia. Namun manik mataku tak kuasa untuk lepas-lepas dari wajahnya. Wajah sinis nan mempesona. Astaga, sungguh indahnya pemandangan ini di tengah derita.

Kugoyang-goyangkan kakiku untuk mengusir pegal yang melanda, menunduk menahan terpaan sinar sang surya yang semakin merajalela. Namun mataku gatal tak melihatnya. Aku mendongakkan kepala dan melihat ia lagi masih dengan kefokusan yang sama.

Kupandangi berlama-lama namun sepertinya ia tahu bahwa ada seseorang yang diam-diam mendamba. Kutundukkan pandangan, berpura-pura seolah yang tadi hanyalah kebetulan biasa.Lalu kulihat lagi ia di tengah barisan yang semakin lama semakin tak seperti semula.

Lagi-lagi aku gatal jika tak melihatnya, aku mendongak dan melihat ia sedang menatapku dengan tatapan elang pemangsa.

Ketakutanku mendominasi lalu kutundukkan lagi pandanganku berpura-pura tak mengetahui.
Namun tubuhku sungguh sangat naïf di  bawah teriknya matahari ini. Kupandangi dia lagi dan bersyukur ia tak menatap ke arah sini. Namun ia tahu bahwa ada yang diam-diam memata-matai, ia lalu menatapku dengan pandangan seakan menguliti.

Kutundukkan pandangan lagi, lantas berikutnya mendongak lagi melihat ia yang semakin tak peduli. Lalu saat ia terlihat akan menoleh kembali, aku buru-buru menundukkan pandanganku.

Lagi.

Begitulah seterusnya sampai barisan ini bubar dan aku berjalan dengan luapan emosi yang menguasai.

25-07-2016

17 Tahun Itu Berarti …


Tahun ini, saya melihat fenomena dimana orang-orang merayakan HSS (Happy Sweet Seventeen). Banyak yang merayakannya dari mulai acara sederhana, sampai yang mewah. Para remaja merayakan ulang tahun yang ke 17 ini dengan alasan bahwa 17 tahun adalah ulang tahun yang spesial. Padahal kalau saya ingat dulu, biasanya yang merayakan ulang tahun itu anak kecil, hehehe.

Sebenernya apa sih 17 itu?
17 tahun dianggap sebagai sebagai tolak ukur dimana orang mulai dianggap dewasa. KTP dibuat pada usia 17 tahun. Ikut pemilu minimal harus 17 tahun dan bahkan situs dewasa mengharuskan kita minimal berusia 17 tahun untuk dapat membukanya.

Saya sendiri berpendapat, bahwa usia 17 tahun merupakan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Dimana semua perbuatan kita dipertanggung jawabkan sebagaimana orang dewasa. Kita tidak lagi dikenakan Undang-Undang anak di bawah umur jika melanggar hukum. Juga setiap keputusan yang kita ambil kita sendiri lah yang akan mempertanggung jawabkannya. Bukan lagi orang lain.

Sah-sah saja jika kita merayakan ulang tahun yang ke 17. Tapi jangan sampai kita lupa hakikat bertambahnya umur itu sendiri. Jangan sampai kita terlena dengan pesta-pesta mewah yang membuat kita lupa, bahwa perjalanan yang lebih menantang dan lebih berat, sedang menunggu di depan.

-Andini-


28-08-2016

Minggu, 28 Agustus 2016

Memulai Lagi

Aku membuat blog ini sekitar 3 tahun yang lalu. namun beberapa akhir ini terabaikan karena kesibukan dunia nyata dan kesibukanku di situs kepenulisan lainnya. tapi kali ini, aku ingin memulai lagi. menulis segala pemikiran yang tertimbun dalam diri. menulis segala bentuk perasaan yang meresahkan hati. semoga aku bisa melakukan yang terbaik. dan untuk pembaca, terimakasih sudah berkunjung dan membaca segenap curahan hati dari gadis ini :)