Oleh : Andini Latifah
Berdiri aku di bawah sengatan pusat tata surya. Kaki ingin menekuk,
badan ingin rehat sejenak dari jenuhnya perkataan sang adidaya yang terus menerus
saja menceracau di depan sana. Namun apa daya, ku tak bisa melakukan apa-apa. Hanya
berpasrah sambil menikmati jilatan mesra panasnya sang surya.
Dengung bergemuruh, wajah-wajah terlipat tak sabaran. Dan aku hanya
bisa menyipitkan mata melihat keadaan.
Saat itulah kulihat dia, mengamati sang adidaya dengan tatapan
elang pemangsa. Aku tak tahu bagaimana dia bisa begitu fokusnya, disaat
orang-orang telah bergilir menggoyangkan badan mereka pertanda lelah.
Kuedarkan pandangan, tak mau terlalu terlihat kalau aku memerhatikan
ia. Namun manik mataku tak kuasa untuk lepas-lepas dari wajahnya. Wajah sinis nan
mempesona. Astaga, sungguh indahnya pemandangan ini di tengah derita.
Kugoyang-goyangkan kakiku untuk mengusir pegal yang melanda,
menunduk menahan terpaan sinar sang surya yang semakin merajalela. Namun mataku
gatal tak melihatnya. Aku mendongakkan kepala dan melihat ia lagi masih dengan kefokusan
yang sama.
Kupandangi berlama-lama namun sepertinya ia tahu bahwa ada seseorang
yang diam-diam mendamba. Kutundukkan pandangan, berpura-pura seolah yang tadi hanyalah
kebetulan biasa.Lalu kulihat lagi ia di tengah barisan yang semakin lama
semakin tak seperti semula.
Lagi-lagi aku gatal jika tak melihatnya, aku mendongak dan melihat
ia sedang menatapku dengan tatapan elang pemangsa.
Ketakutanku mendominasi lalu kutundukkan lagi pandanganku berpura-pura
tak mengetahui.
Namun tubuhku sungguh sangat naïf di bawah teriknya matahari ini. Kupandangi dia lagi
dan bersyukur ia tak menatap ke arah sini. Namun ia tahu bahwa ada yang diam-diam
memata-matai, ia lalu menatapku dengan pandangan seakan menguliti.
Kutundukkan pandangan lagi, lantas berikutnya mendongak lagi
melihat ia yang semakin tak peduli. Lalu saat ia terlihat
akan menoleh kembali, aku buru-buru menundukkan pandanganku.
Lagi.
Begitulah seterusnya sampai barisan ini bubar dan aku berjalan
dengan luapan emosi yang menguasai.
25-07-2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar