Minggu, 04 September 2016

Cerita Mini : Makna

Oleh : Andini Latifah

Berdiri aku di bawah sengatan pusat tata surya. Kaki ingin menekuk, badan ingin rehat sejenak dari jenuhnya perkataan sang adidaya yang terus menerus saja menceracau di depan sana. Namun apa daya, ku tak bisa melakukan apa-apa. Hanya berpasrah sambil menikmati jilatan mesra panasnya sang surya.

Dengung bergemuruh,  wajah-wajah terlipat tak sabaran. Dan aku hanya bisa menyipitkan mata melihat keadaan.

Saat itulah kulihat dia, mengamati sang adidaya dengan tatapan elang pemangsa. Aku tak tahu bagaimana dia bisa begitu fokusnya, disaat orang-orang telah bergilir menggoyangkan badan mereka pertanda lelah.

Kuedarkan pandangan, tak mau terlalu terlihat kalau aku memerhatikan ia. Namun manik mataku tak kuasa untuk lepas-lepas dari wajahnya. Wajah sinis nan mempesona. Astaga, sungguh indahnya pemandangan ini di tengah derita.

Kugoyang-goyangkan kakiku untuk mengusir pegal yang melanda, menunduk menahan terpaan sinar sang surya yang semakin merajalela. Namun mataku gatal tak melihatnya. Aku mendongakkan kepala dan melihat ia lagi masih dengan kefokusan yang sama.

Kupandangi berlama-lama namun sepertinya ia tahu bahwa ada seseorang yang diam-diam mendamba. Kutundukkan pandangan, berpura-pura seolah yang tadi hanyalah kebetulan biasa.Lalu kulihat lagi ia di tengah barisan yang semakin lama semakin tak seperti semula.

Lagi-lagi aku gatal jika tak melihatnya, aku mendongak dan melihat ia sedang menatapku dengan tatapan elang pemangsa.

Ketakutanku mendominasi lalu kutundukkan lagi pandanganku berpura-pura tak mengetahui.
Namun tubuhku sungguh sangat naïf di  bawah teriknya matahari ini. Kupandangi dia lagi dan bersyukur ia tak menatap ke arah sini. Namun ia tahu bahwa ada yang diam-diam memata-matai, ia lalu menatapku dengan pandangan seakan menguliti.

Kutundukkan pandangan lagi, lantas berikutnya mendongak lagi melihat ia yang semakin tak peduli. Lalu saat ia terlihat akan menoleh kembali, aku buru-buru menundukkan pandanganku.

Lagi.

Begitulah seterusnya sampai barisan ini bubar dan aku berjalan dengan luapan emosi yang menguasai.

25-07-2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar