Senin, 04 Juni 2018

Swim Good [cuplikan]

Malam semakin larut, juga dingin yang memaksa orang-orang agar diam berselimut di dalam rumah dan tidur untuk berharap terbangun di pagi hari yang cerah. Namun wanita itu masih di sana. Berdiri mematung memandang ke arah pintu gerbang. Ia seakan menunggu, padahal sebenarnya tidak. Ia sedang berusaha memastikan apa yang dirasakannya juga merunut apa yang telah terjadi.

Suara deruman terdengar, disusul pintu gerbang yang terbuka. Dan wanita itu memperhatikan lelaki yang keluar dengan wajah lelah sekaligus sumringah.

Ia lalu pergi dari balkon itu, menuju dapur untuk melakukan hal yang rutin ia lakukan satu setengah tahun ini. Saat lelaki itu datang, ditatapnya wajah lelaki itu dengan seksama, bagaimana kantung matanya yang tebal dan kulitnya yang putih pucat.

"Kamu udah pulang, gimana acaranya tadi?" wanita itu memaksakan tersenyum dan berbasa-basi walaupun sebenarnya ia tidak ingin mendengar apapun darinya.

"Yah kaya biasa, kamu pasti tau kelakuan Vandi kaya gimana," jawab lelaki itu acuh tak acuh, ia menuju kamar mandi dan menyimpan barang-barangnya di sembarang tempat. "Aku mau mandi dulu."

Sembari menunggunya mandi, wanita itu menyiapkan segelas teh hangat yang tidak terlalu manis. Lelaki itu menyukainya. Jadi ia lakukan yang terbaik yang ia bisa walaupun selanjutnya sebuah kesadaran menghentak, kesadaran yang membuat ia bertanya-tanya mengapa ia harus melakukan ini.

Setelah mandi lelaki itu duduk dan menyesap teh yang dibuatkan oleh sang wanita, istrinya. Tidak seperti biasa kali ini sunyi yang menggantung di udara. Tak ada pertanyaan basa-basi dari si wanita juga tak ada kepedulian yang dipaksakan dari si lelaki. Dua-duanya seakan menyadari kalau malam ini akan jadi akhir dari segala yang terjadi.

Wanita itu lalu bangkit dan pergi ke kamarnya. Menghilangkan rasa pening yang melanda. Malam ini ia merasa ingin tidur saja dan terbangun di keesokan hari untuk melihat apa yang terjadi.

Tak lama lelaki itu datang dan berbaring di sampingnya. Tak ada yang tidur, juga tak ada yang bersuara. Masing-masing tenggelam dalam alam pikirannya sendiri. Wanita memandang langit di luar jendela, lelaki memandang langit-langit kamarnya yang gelap.

Lalu tetiba sebuah gerakan terjadi. Wanita itu berbalik untuk menatap wajah sang lelaki, lantas ia menyentuhnya, "aku jujur waktu aku bilang aku punya rasa suka sama kamu. Dan aku pun jujur saat dulu aku bilang aku ingin kamu yang jadi suamiku. Ini bukan cuman tentang keuntungan yang ingin aku peroleh saja."

Lelaki itu tak bergeming, lalu diusapnya rambut sang wanita, "dan aku pun gak bohong waktu aku bilang aku nyaman dengan perlakuan kamu, dan aku tulus mengucapkan terimakasih untuk semuanya."

Hening menyelimuti. Dan malam yang sunyi itu semakin sepi ditelan gelap dan awan yang menutupi bintang. Dua insan dengan perasaannya masing-masing saling bertatapan. Sang wanita dengan kesadarannya, dan sang lelaki dengan perasaan bersalahnya. Malam itu, di bawah langit malam yang tertutupi awan, dua sejoli yang hendak berpisah saling mengucapkan selamat tinggal dengan tubuh mereka. Maaf dan terimakasih tak luput dalam perayaan selamat tinggal itu, meninggalkan kisah yang memberikan rasa nyaman juga luka.