Jadi udah beberapa bulan terakhir ini aku nge log out akun
instagramku, dan membukanya hanya pada saat –saat tertentu dan itupun tidak
pernah lebih dari 15 menit. Hal ini aku lakukan setelah merasa kalau semakin
lama berselancar di instagram malah makin gak sehat. Bawaannya iri, apalagi
kalau musim liburan.
Dilansir dari laman CNN Indonesia, ada sebuah penelitian
yang dilakukan oleh The Royal Society for Public Health (RSPH) dan Charity
Young Health di Inggris. Mereka melakukan penelitian terhadap 1500 anak muda
(usia 14-24) selama bulan-bulan pertama tahun 2017. Penelitian tersebut menilai dan mengamati
tentang bagaimana media sosial mempengaruhi kesehan mental mereka.
Hasilnya, berdasarkan rating, instagram dinilai sebagai
aplikasi media sosial yang memiliki efek negatif paling banyak.
Setelah merasa gak enak dan setelah membaca artikel
tersebut, akhirnya aku putuskan untuk me log out akun instragramku. Emang belum
sampai tahap yang radikal dimana aku ngehapus akun dan pergi untuk selama-lamanya. Karena aku
juga mikir, masih banyak informasi yang aku butuhkan dan tersedia di instagram. Akhirnya aku cuman nge
log out akun dan membukanya pada saat-saat tertentu, itupun hanya melihat-lihat
akun yang ingin aku lihat.
Soalnya gimana yah, seperti yang udah aku sebutkan di atas,
keseringan buka instagram itu bawaannya iri, dengki, juga malah jadi gak
bersyukur. Kenapa? Soalnya diri ini ngebanding-bandingin kesusahan hidup sama
kesenangan oranglain yang mereka upload ke instagram.
Liat orang-orang jalan-jalan, beli sesuatu, hang out, dan
lain sebagainya bikin aku ngerasa kalau hidup aku ini gak semenyenangkan
mereka. Terus mulai menyalahkan. Menyalahkan keadaan, menyalahkan lingkungan,
menyalahkan orang tua, sampai menyalahkan Tuhan. Kenapa sih aku juga gak bisa seneng-seneng
kayak mereka?
Tapi setelah dipikir-pikir lagi orang yang kelihatan senang
di media sosial belum tentu seneng juga di dunia nyata. Bisa jadi mereka juga
punya banyak masalah yang memang gak akan pernah mereka beritahukan lewat media
sosial. Dan aku pun, gak akan pernah nge upload permasalahan dan kesusahan aku
ke media sosial.
Terus aku sadar. Iya juga yah, orang yang sering aku liat
mereka seneng-seneng, jalan-jalan, mereka juga
sebenernya punya masalah. Cuma yah mereka gak akan pernah memberitahu
kesusahan mereka itu. jadi yang mereka upload cuman yang seneng-seneng aja.
Tapi walaupun sadar kalau orang yang keliatannya seneng itu
punya masalah juga, aku tetep memutuskan untuk mengurangi frekuensi main
instagram. Gak sehat bro kalau keseringan liat orang seneng-seneng. Gak
berfaedah juga liatin foto dan story orang yang bikin pinter enggak bikin abis
kuota iya.
Akhirnya aku beralih pada sosial media dan situs-situs lain
yang lebih ‘sehat’. Mulai dari situs berita, sampai twitter. Asli deh,
bersamaan dengan aku mengurangi frekuensi main instagram, aku juga mulai
menambah frekuensi main twitter. Loh, emangnya twitter juga gak memiliki efek
buruk?
Berdasarkan penelitian yang sama yang sudah aku sebutkan di
atas, twitter berada di posisi ke dua media sosial terbaik dari lima media
sosial yang diteliti.
Di twitter dimana orang-orang mencuit tulisan mereka, ada
juga efek negatifnya. Entah itu ujaran kebencian, berantem gak jelas, dll. Tapi
aku merasa lebih nyaman di twitter.. aku memilih untuk memfollow orang-orang
yang ingin aku follow. Membaca gagasan mereka, bertukar pikiran, dan lain
sebagainya. Lebih baik daripada iri dengan kehidupan orang lain.
Pun tidak bisa dipungkiri disamping efek negatifnya, instagram
juga punya efek positif. Misalnya kita bisa lebih dekat dengan teman atau
keluarga yang jauh, kita bisa tahu bagaimana keadaan mereka dan kabar dari
mereka. Juga hal ini bisa dimanfaatkan oleh orang untuk berbisnis. Dimana di
era digital ini perdagangan dengan menggunakan teknologi tidak bisa dihindari
lagi. Juga aku selalu memposting update-an terbaru blogku lewat instagram.
Berharap agar orang-orang mau membaca.
Tapi tetap, berdasarkan pergolakan di dalam diri, keputusan
pribadi tetap ingin mengurangi frekuensi main instagram. Dan hasilnya
Alhamdulillah aku udah gak terlalu ‘panas’ dan iri lagi sama kehidupan orang.
Sekarang pun di aplikasi whatsapp ada status yang fiturnya
mirip instastory di instagram. Tapi mungkin karena sudah lebih awal melatih mental
dengan mengurangi main di instagram, aku juga udah gak terlalu iri hati lagi
liat temen atau siapapun yang upload status mereka entah mereka lagi
jalan-jalan atau apapun itu.
Dan sekarang fokusku bukan ke kehidupan orang lain lagi,
tapi pada diri sendiri. Sekarang aku mencoba untuk fokus memperbaiki kualitas
diri dan sibuk mencari ilmu sebanyak mungkin. Karena kebahagiaan dan kesenangan
diri ini yang tahu, juga diri ini yang merasakan, bukan orang lain.
06/02/2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar