Minggu, 04 Maret 2018

Mencari Teman Bicara Tanpa Stigma

First of all, bisa dibilang sekarang aku lagi ada di periode yang.... Gak jelas. Gak jelas karena aku pun bingung sama aku yang aku rasakan. Ada banyak wacana yang bermunculan, opini yang berserakan yang diminta untuk dibicarakan. Tapi aku malu untuk bicara, takut dicap ini dan itu.

Pingin membicarakan tentang sex takut dikira perempuan nakal. Ingin bicara tentang agama takut dikira radikal. Ingin bicara tentang sebuah wacana yang agak melawan arus takut dibilang liberal. Aku takut kalau lawan bicaraku orang yang sangat 'judgemental' dan setelah mendengar apa yang aku katakan bukannya diskusi bersama malah mencap ini dan itu, memberikan stigma macam-macam yang gak relevan.

Dan sempet mikir, apa aku salah tempat yah? Apa aku berada di tengah orang-orang yang salah sampai aku gak bisa mengeluarkan apa yang aku pikirkan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi itu cuman alasan yang aku cari-cari, karena memang lebih mudah menyalahkan keadaan daripada menyalahkan diri sendiri.

Masalahnya sesungguhnya ada pada diri sendiri. Diri ini berani tidak untuk mengeluarkan apa yang dipikirkannya? Diri ini berani tidak untuk tidak mendengarkan perkataan orang-orang? Diri ini berani tidak untuk bisa mandiri dan tidak tergantung supaya tidak usah merasa gak enakan sama orang? Semuanya ada pada diri sendiri. Diri yang pengecut, yang belum berani melangkah ke arah yang ia yakini.

Tapi tetep ajah berat kalau semuanya disimpan sendiri. Akhirnya aku melakukan satu hal yang aku bisa, menulis. Walaupun mungkin dengan menulis akupun gak akan luput dari 'stigma' yang disematkan orang-orang. Tapi yah aku berusaha untuk gak peduli. Dan aku tetap akan menulis.

Menulis tentang segala hal sampai aku menemukan lawan bicara dimana aku bisa membicarakan banyak hal tanpa 'stigma'. Tanpa dituduh macam-macam dan disudutkan.


04/03/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar