Alkisah, ada sebuah kerajaan bernama kerajaan Marde. Kerajaan ini dilingkupi dengan kesengsaraan yang luar biasa. Perang yang tak berkesudahan, penguasa yang semena-mena, dan rakyat yang semakin menderita.
Tapi rakyat kerajaan Marde tidak semudah itu putus asa. Entah sudah berapa kali mereka berusaha untuk mengembalikan kerajaan mereka ke masa jayanya. Saat rakyat hidup tentram nan sejahtera dan penguasa mengayomi rakyatnya.
Karena perang yang tak juga padam dan nasib yang tak semakin baik, lambat laun rakyat kerajaan Marde lelah juga, perlahan mereka mulai putus asa dan kehilangan semangat untuk membawa kerajaan ini ke arah yang lebih baik.
Lalu tetiba sebuah pesan turun bak meteor. Memberikan harapan seperti oase di tengah padang pasir yang gersang. Ada sebuah ramalan kuno yang dipercayai oleh banyak orang, bahwa akan datang penyelamat saat kerajaan sedang dilanda kekacauan. Penyelamat yang akan membawa kerjaan Marde damai nan sejahtera. Dan penyelamat itu akan datang tak lama lagi. Penyelamat itu, adalah orang yang dapat mencabut pedang keramat yang sudah tertancap selama ribuan tahun di lembah putih.
Dengan cepat pesan itu menyebar dan seluruh kerajaan bising dengan bincang-bincang datangnya penyelamat. Lembah putih pun mulai sesak dipenuhi dengan orang-orang yang ingin melihat sang penyelamat atau orang yang berusaha membuktikan bahwa ialah sang penyelamat itu.
Datanglah pemuda-pemudi tangguh dari penjuru negeri yang berusaha untuk mencabut pedang milik ksatria legenda itu. namun tak ada satu pun yang berhasil. Dan orang-orang mulai kehilangan harapan kembali. Sampai datang seorang pemuda dengan badan tegap dan otak cemerlang yang datang dari selatan kerajaan.
Ia datang ke lembah putih itu seorang diri, saat ia tiba dan berjalan menuju pedang yang tertancap, pikirannya bergemuruh. Ada kejanggalan dan kesadaran yang datang hampir bersamaan. Sebuah titik terang yang menghentak kesadarannya.
Ia mengamati pedang yang tertancap itu, pedang milik ksatria legenda pendiri kerajaan Marde yang tersohor. Seorang ksatria yang menghapuskan segala bentuk kekejaman dan memberikan penghidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang menginginkan. Ialah pendiri kerajaan Marde sekaligus raja pertama yang melegenda, yang sejarah asli hidupnya tidak banyak tercatat dan diketahui. Ia adalah raja yang menancapkan pedang di lembah putih ini sebagai penanda wilayah kerajaannya dan pengabdian hidupnya bagi masyarakat.
Pemuda tangguh dari selatan itu terus mengamati pedang yang mencuri rasa kekagumannya. Ia mencoba menerka-nerka bagaimana sosok sang raja yang menancapkan pedang itu juga sosok penyelamat yang berhasil mencabutnya. Lalu sebuah kesadaran menghentak dan ia kembali pada realita.
Ia mengamati sekitar. Orang-orang dengan wajah penuh harapan, napas yang tertahan, juga degup jantung tak beraturan dari orang yang ingin membuktikan sebuah ramalan.
Perlahan, pemuda itu menyentuh pedang dan suasana menjadi sunyi. Napas-napas tertahan disertai degup kekhawatiran. Pemuda itu mencoba menariknya,saat terjadi sedikit gerakan, ia menyerah, tak sanggup lagi untuk meneruskannya dan orang-orang pun kembali menelan pahitnya kekecewaan.
Melihat wajah yang kecewa itu ia berujar pada para hadirin yang menyaksikan,”wahai kalian semua!! Aku memang tidak dapat mencabut pedang ini. namun jika kalian ikut berjuang bersama denganku, aku yakin kita dapat membawa kerajaan ini ke arah yang lebih baik!”
Hadirin hanya terdiam, pura-pura tidak mengengar dan mengabaikan mentah-mentah ucapan pemuda itu . lantas pemuda itu pun pergi dari lembah putih dengan rasa sedih juga kecewa yang melanda.
Di sebuah desa kecil yang ia lewati menuju kampung halamannya, ia bertemu sekumpulan orang. Sekumpulan orang yang gagal mencabut pedang legenda di lembah putih. Melihat mereka semua pemuda itu mengernyit.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
“Kau baru saja pergi dari lembah putih itu?” tanya seorang laki-laki bertubuh gelap.
“Ya.”
“Dan apa yang kau lakukan? Kau mencabutnya?” kali ini seorang wanita dengan rambut coklat bertanya.
“Tidak.”
Mereka hanya terdiam dan mengajak pemuda itu ke sebuah kedai.
“Kau lihat kan? kita sudah tidak punya harapan lagi. Kerajaan ini sudah tidak punya harapan lagi.”
Pemuda itu hanya mengangguk setuju tatkala seorang lelaki tua bertubuh tegap duduk di sampingnya.
“Aku dapat informasi musuh datang dari arah timur, dan kerajaan kita tidak melakukan apa-apa, hanya satu yang bisa kita lakukan, pergi dari sini.”
Ia mengangguk, dan yang lain pun setuju. Jadi ia beserta “mantan calon penyelamat” itu pun segera lari dari kerajaan Marde. Mereka tak lupa mengajak penduduk dari desa yang mereka lewati untuk turut serta pergi bersama mereka. Namun sebagian besar penduduk itu lebih memilih tinggal sambil menunggu sang penyelamat yang akan datang. Hanya sebagian kecil yang mau pergi bersama mereka.
Perang semakin berkecamuk, korban jiwa semakin banyak berjatuhan. Dan rombongan yang kabur dari kerajaan Marde sudah mencari tempat yang cukup aman untuk tinggal mereka sementara.
Saat perang sudah reda, rombongan itu kembali lagi ke kerajaan yang mereka tinggalkan. Namun hanya puing-puing juga mayat yang tersisa. Terlalu terlambat bagi penduduk untuk melarikan diri karena musuh sangat cepat tiba, andai saja penduduk itu mau mendengarkan perkataan mereka saat itu.
Mereka pun kembali lagi ke lembah putih. Dan pedang legenda masih tertancap di situ, di tengah orang-orang meninggal yang terus-menerus menunggu datangnya penyelamat. Pemuda itu pun mendekati pedang legenda, menyentuhnya, dan dalam sekali hentakan berhasil mencabutnya.
“Kasihan orang-orang itu, lebih percaya pada ramalan dibanding berjuang dengan tangan mereka sendiri.” Sang lelaki tua tegap memandang ke arah pedang dan mayat-mayat yang berserakan di sekitarnya.
“Tapi kalau dulu aku mencabutnya dan bertingkah seolah-olah aku ini penyelamat,apakah mereka akan ikut berjuang bersamaku?” tanya wanita berambut cokelat.
“Tidak,” sahut lelaki bertubuh gelap,”andaikan kau mencabutnya dan mereka menganggapmu penyelamat, mereka tetap akan menghancurkan diri mereka sendiri. Sikap dan sifat mereka sendirilah yang sudah memusnahkan mereka dan kerajaan ini.”
“Ayo kita pergi,” sahut lelaki tua. Dan rombongan mereka pun berjalan pergi dari lembah putih itu, dengan sang pemuda tangguh yang membawa pedang legenda untuk ditancapkan di wilayah baru yang akan ia tinggali.
17/04/2018
Tapi rakyat kerajaan Marde tidak semudah itu putus asa. Entah sudah berapa kali mereka berusaha untuk mengembalikan kerajaan mereka ke masa jayanya. Saat rakyat hidup tentram nan sejahtera dan penguasa mengayomi rakyatnya.
Karena perang yang tak juga padam dan nasib yang tak semakin baik, lambat laun rakyat kerajaan Marde lelah juga, perlahan mereka mulai putus asa dan kehilangan semangat untuk membawa kerajaan ini ke arah yang lebih baik.
Lalu tetiba sebuah pesan turun bak meteor. Memberikan harapan seperti oase di tengah padang pasir yang gersang. Ada sebuah ramalan kuno yang dipercayai oleh banyak orang, bahwa akan datang penyelamat saat kerajaan sedang dilanda kekacauan. Penyelamat yang akan membawa kerjaan Marde damai nan sejahtera. Dan penyelamat itu akan datang tak lama lagi. Penyelamat itu, adalah orang yang dapat mencabut pedang keramat yang sudah tertancap selama ribuan tahun di lembah putih.
Dengan cepat pesan itu menyebar dan seluruh kerajaan bising dengan bincang-bincang datangnya penyelamat. Lembah putih pun mulai sesak dipenuhi dengan orang-orang yang ingin melihat sang penyelamat atau orang yang berusaha membuktikan bahwa ialah sang penyelamat itu.
Datanglah pemuda-pemudi tangguh dari penjuru negeri yang berusaha untuk mencabut pedang milik ksatria legenda itu. namun tak ada satu pun yang berhasil. Dan orang-orang mulai kehilangan harapan kembali. Sampai datang seorang pemuda dengan badan tegap dan otak cemerlang yang datang dari selatan kerajaan.
Ia datang ke lembah putih itu seorang diri, saat ia tiba dan berjalan menuju pedang yang tertancap, pikirannya bergemuruh. Ada kejanggalan dan kesadaran yang datang hampir bersamaan. Sebuah titik terang yang menghentak kesadarannya.
Ia mengamati pedang yang tertancap itu, pedang milik ksatria legenda pendiri kerajaan Marde yang tersohor. Seorang ksatria yang menghapuskan segala bentuk kekejaman dan memberikan penghidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang menginginkan. Ialah pendiri kerajaan Marde sekaligus raja pertama yang melegenda, yang sejarah asli hidupnya tidak banyak tercatat dan diketahui. Ia adalah raja yang menancapkan pedang di lembah putih ini sebagai penanda wilayah kerajaannya dan pengabdian hidupnya bagi masyarakat.
Pemuda tangguh dari selatan itu terus mengamati pedang yang mencuri rasa kekagumannya. Ia mencoba menerka-nerka bagaimana sosok sang raja yang menancapkan pedang itu juga sosok penyelamat yang berhasil mencabutnya. Lalu sebuah kesadaran menghentak dan ia kembali pada realita.
Ia mengamati sekitar. Orang-orang dengan wajah penuh harapan, napas yang tertahan, juga degup jantung tak beraturan dari orang yang ingin membuktikan sebuah ramalan.
Perlahan, pemuda itu menyentuh pedang dan suasana menjadi sunyi. Napas-napas tertahan disertai degup kekhawatiran. Pemuda itu mencoba menariknya,saat terjadi sedikit gerakan, ia menyerah, tak sanggup lagi untuk meneruskannya dan orang-orang pun kembali menelan pahitnya kekecewaan.
Melihat wajah yang kecewa itu ia berujar pada para hadirin yang menyaksikan,”wahai kalian semua!! Aku memang tidak dapat mencabut pedang ini. namun jika kalian ikut berjuang bersama denganku, aku yakin kita dapat membawa kerajaan ini ke arah yang lebih baik!”
Hadirin hanya terdiam, pura-pura tidak mengengar dan mengabaikan mentah-mentah ucapan pemuda itu . lantas pemuda itu pun pergi dari lembah putih dengan rasa sedih juga kecewa yang melanda.
Di sebuah desa kecil yang ia lewati menuju kampung halamannya, ia bertemu sekumpulan orang. Sekumpulan orang yang gagal mencabut pedang legenda di lembah putih. Melihat mereka semua pemuda itu mengernyit.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
“Kau baru saja pergi dari lembah putih itu?” tanya seorang laki-laki bertubuh gelap.
“Ya.”
“Dan apa yang kau lakukan? Kau mencabutnya?” kali ini seorang wanita dengan rambut coklat bertanya.
“Tidak.”
Mereka hanya terdiam dan mengajak pemuda itu ke sebuah kedai.
“Kau lihat kan? kita sudah tidak punya harapan lagi. Kerajaan ini sudah tidak punya harapan lagi.”
Pemuda itu hanya mengangguk setuju tatkala seorang lelaki tua bertubuh tegap duduk di sampingnya.
“Aku dapat informasi musuh datang dari arah timur, dan kerajaan kita tidak melakukan apa-apa, hanya satu yang bisa kita lakukan, pergi dari sini.”
Ia mengangguk, dan yang lain pun setuju. Jadi ia beserta “mantan calon penyelamat” itu pun segera lari dari kerajaan Marde. Mereka tak lupa mengajak penduduk dari desa yang mereka lewati untuk turut serta pergi bersama mereka. Namun sebagian besar penduduk itu lebih memilih tinggal sambil menunggu sang penyelamat yang akan datang. Hanya sebagian kecil yang mau pergi bersama mereka.
Perang semakin berkecamuk, korban jiwa semakin banyak berjatuhan. Dan rombongan yang kabur dari kerajaan Marde sudah mencari tempat yang cukup aman untuk tinggal mereka sementara.
Saat perang sudah reda, rombongan itu kembali lagi ke kerajaan yang mereka tinggalkan. Namun hanya puing-puing juga mayat yang tersisa. Terlalu terlambat bagi penduduk untuk melarikan diri karena musuh sangat cepat tiba, andai saja penduduk itu mau mendengarkan perkataan mereka saat itu.
Mereka pun kembali lagi ke lembah putih. Dan pedang legenda masih tertancap di situ, di tengah orang-orang meninggal yang terus-menerus menunggu datangnya penyelamat. Pemuda itu pun mendekati pedang legenda, menyentuhnya, dan dalam sekali hentakan berhasil mencabutnya.
“Kasihan orang-orang itu, lebih percaya pada ramalan dibanding berjuang dengan tangan mereka sendiri.” Sang lelaki tua tegap memandang ke arah pedang dan mayat-mayat yang berserakan di sekitarnya.
“Tapi kalau dulu aku mencabutnya dan bertingkah seolah-olah aku ini penyelamat,apakah mereka akan ikut berjuang bersamaku?” tanya wanita berambut cokelat.
“Tidak,” sahut lelaki bertubuh gelap,”andaikan kau mencabutnya dan mereka menganggapmu penyelamat, mereka tetap akan menghancurkan diri mereka sendiri. Sikap dan sifat mereka sendirilah yang sudah memusnahkan mereka dan kerajaan ini.”
“Ayo kita pergi,” sahut lelaki tua. Dan rombongan mereka pun berjalan pergi dari lembah putih itu, dengan sang pemuda tangguh yang membawa pedang legenda untuk ditancapkan di wilayah baru yang akan ia tinggali.
17/04/2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar